Selasa, 13 Maret 2012

kisah nabi syuaib A.S.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". [QS 7:85] Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.[QS 7:86]

Nabi Syuaib AS termasuk 4 orang nabi yang berbangsa Arab (yaitu Nabi Hud AS, Nabi Saleh AS, Nabi Syuaib AS dan Nabi Muhammad SAW). Beliau adalah cicit Nabi Ibrahim AS, diutus Allah untuk meluruskan akidah dan memperbaiki ahlak kaumnya, yaitu penduduk Madyan. Ada empat misi utama Nabi Syuaib AS yang disebut ayat 85 dan 86, yaitu 1) mengajak kepada tauhid, 2) menganjurkan berbuat adil, 3) mengingatkan agar tidak berbuat kerusakan di muka bumi, 4) mengingatkan agar tidak membuat teror dan menghalang-halangi jalan kebenaran.

Penduduk Madyan adalah penduduk yang telah tersesat jauh, mereka tidak lagi mengenal tauhid. Mereka menyembah berhala, bahkan ada yang menyembah pohon yang dikeramatkan (disebut Ashabul Aikah). Nabi Syuaib AS terkenal berasal dari keturunan yang mulia dan dihormati, beliau juga terkenal sebagai orator ulung dan memukau kalau berbicara (khotibul anbiya). Allah SWT mengutus beliau untuk meluruskan akidah penduduk Madyan yang telah jauh tersesat itu.

Disamping itu peduduk Madyan ini memiliki sifat-sifat buruk yang lain yang sangat menghawatirkan. Diantara sifat buruk yang sangat parah adalah kecurangan dalam segala hal. Masyarakat Madyan adalah masyarakat yang telah sakit parah yang mengutamakan kecurangan, ketidakadilan dalam berbagai hal, pencurian, perampokan dan kebejatan moral. Dengan sifat-sifat yang buruk ini mereka suka berbuat onar dan kerusakan. Letak geografis Madyan yang strategis (jalur perdagangan) mereka manfaatkan untuk merampok dan menakut-nakuti para kabilah dagang yang melewati wilayah mereka.

Secara eksplisit ayat 86 menyatakan bahwa kebiasaan penduduk Madyan yang suka menakut-nakuti dan mengganggu perjalanan (penyamun padang pasir). Pada saat yang sama mereka juga menjadi penghalang utama bagi orang-orang yang ingin kembali kepada jalan yang benar, yakni menghalang-halangi mereka yang ingin mengikuti dakwah Nabi Syuaib AS.

Dalam berdakwah Nabi Syuaib AS juga mengingatkan untuk bersyukur kepada Allah. Bahwa penduduk Madyan ini sebelumnya jumlahnya sedikit yang tentunya tidak memiliki kekuatan. Allah telah memberikan karuniaNya dengan pertambahan penduduk yang cepat sehingga jumlah mereka menjadi banyak dan kuat. Jarak wilayah Madyan tidaklah jauh dari kota Sodom yang dihancurkan Allah ataupun dengan wilayah kaum Nabi Saleh AS (kaum Tsamud) yang juga dihancurkan. Seharusnya mereka belajar dari pengalaman-pengalaman dan kehancuran kaum-kaum sebelumnya yang jaraknya berdekatan dengan mereka (baik ruang maupun waktu). Namun, manusia memang cepat lupa dan mudah menjadi pembangkang dan senang berada di wilayah kesesatan. Peringatan akan kehancuran dan ajakan kepada kebenaran tidak digubris atau bahkan ditentang keras. Akibatnya, penduduk Madyan mengikuti jejak pendahulunya yaitu kaum Tsamud dan penduduk Sodom, dihancurkan Allah SWT sampai ke akar-akarnya.

Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.[QS 7:87]

Ayat 87 adalah prinsip orang beriman hidup berdampingan dengan orang kafir yang selalu mengancam dan mengganggu orang beriman. Bagi orang beriman, khususnya kalau mereka lemah (minoritas dan tidak memiliki kekuatan baik politik ataupun ekonomi) maka sikap yang harus ditumbuhkan adalah sabar. Orang beriman harus lebih sabar menghadapi konflik dengan orang kafir yang lebih kuat dan mereka tidak boleh melawan. Sikap sabar dan tidak melawan ini juga diterapkan oleh Rasulullah SAW dan pengikut beliau selama 13 tahun dakwah di Mekkah.

Pemuka-pemuka dari kaum Syuaib yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami". Berkata Syuaib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?"[QS 7:88] Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.[QS 7:89]

Sikap suatu kaum kepada rasul yang diutus kepada mereka sama. Kalau kita perhatikan mulai dari kisah Nabi Nuh AS sampai Nabi Lut AS (yang dimuat di Zanjabil 399 minggu lalu), sampai kepada Rasulullah SAW, para pemuka kaum yang selama ini bebas melakukan tindakan curang, pembodohan dan kemudian eksploitasi untuk melanggengkan kekuasaan mereka menentang keras para rasul dan ajarannya. Para pemuka kaum ini berusaha melenyapkan rasul dan ajarannya dengan berbagai cara.

Untuk kasus Nabi Syuaib AS, kaumnya berusaha mengusir beliau dari wilayah Madyan. Tentu saja Nabi Syuaib AS menolak makar para pemuka kaumnya untuk mengusir beliau dan pengikut-pengikut beliau. Karena Nabi Syuaib berasal dari keluarga terkemuka ditambah dengan aturan sosial yang melindungi Nabi Syuaib AS, maka makar pengusiran itu sukar untuk diimplementasikan. Ajakan kompromi para pemuka itu, yakni kembali kepada kesesatan tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Nabi Syuaib AS. Akhirnya, para pemuka itu melakukan tekanan, ancaman dan berbagai teror agar Nabi Syuaib AS dan pengikutnya tidak betah tinggal di Madyan, menyerah dan keluar wilayah Madyan. Tekanan-tekanan itu sangat berat, sehingga Nabi Syuaib AS mengadu kepada Allah agar mendatangkan suatu keputusan untuk penduduk Madyan, karena Nabi Syuaib AS sudah tidak kuat menghadapi teror dari kaumnya.

Pemuka-pemuka kaum Syuaib yang kafir berkata (kepada sesamanya): "Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syuaib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi".[QS 7:90]

Ayat 90 merekam pembicaraan pemuka kaum Nabi Syuaib AS. Para pemuka tersebut berusaha mengancam penduduk Madyan untuk tidak mengikuti langkah Nabi Syuaib AS, sebab kalau mereka mengikuti Nabi Syuaib AS mereka akan mengalami nasib yang sama dengan Nabi Syuaib AS dan pengikutnya, yaitu di teror dan akan segera dilenyapkan, menjadi golongan yang rugi. Yang terjadi justru sebaliknya para pemuka penduduk Madyan dan penghuni Madyan mengekor sikap pemuka mereka yang sesat akan lenyap dan pasti merugi.

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,[QS 7:91] (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syuaib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syuaib mereka itulah orang-orang yang merugi.[QS 7:92]

Akhirnya keputusan Allah itu datang. Nabi Syuaib AS diberitahu akan azab Allah. Beliau dan pengikutnya menyelamatkan diri. Gempa dahsyat melanda Madyan dan akibatnya seluruh pemuka dan penduduk Madyan yang sombong dan sesat itu tewas. Inilah kesudahan orang-orang yang sombong dan membangkang utusan Allah. Mereka membuat makar untuk mengusir atau bahkan melenyapkan Nabi Syuaib AS dan pengikut-pengikutnya, tetapi makar Allah sangat dahsyat, mereka dihabisi sebelum mereka sempat melaksanakan makar jahat mereka.

Maka Syuaib meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanah Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?"[QS 7:93]

Setelah kaum Madyan lenyap ditelan azab, Nabi Syuaib AS berucap kepada kaumnya, mengingatkan mereka bahwa beliau telah menyampaikan amanat dan memberi nasehat, tetapi mereka dustakan. Nah, rasakanlah akibatnya. Ucapan Nabi Syuaib AS tersebut membuktikan bahwa para mayat sesungguhnya dapat mendengarkan perkataan orang yang masih hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar